OPINI

TANTANGAN UTAMA DOSEN DI ERA DIGITAL

Oleh : Prof. Dr. Nurlita Pertiwi, M.T
(Dosen Universitas Negeri Makassar)

Kamis, 28 Mei 2026

Dosen merupakan profesi mulia yang bertanggung jawab terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter mahasiswa, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Seorang dosen tidak hanya berperan membagi ilmu pengetahuan bagi mahasiswa, tetapi juga bertanggung jawab dalam mengembangkan kapasitas ilmiah, membangun kemampuan berpikir kritis, serta membimbing mahasiswa agar mampu menghasilkan karya akademik yang bermutu dan bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, dosen juga berperan dalam  melatih mahasiswa untuk bertanggung jawab secara sosial baik dalam hal pengembangan intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang baik dalam kehidupan bermasyarakat dan dunia kerja.

Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat menjadi dua sisi mata uang bagi perkembangan kapasitas mahasiswa. Pada era 80-an, mahasiswa hanya dapat mengakses informasi di perpustakaan. Data fisik yang menjadi sumber informasi hanya dapat dicatat pada kertas buram  untuk selanjutnya diinterpretasi menjadi karya tulis ilmiah. Kondisi ini ada kaitannya dengan lama studi mahasiswa yang lebih dari sepuluh semester pada masa tersebut. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang memutuskan untuk berhenti kuliah akibat putus asa menemukan informasi yang valid.

Saat ini, teknologi digital memberikan kemudahan akses informasi dan ilmu pengetahuan bagi mahasiswa. Kebiasaan copy and paste dari sumber digital dalam menulis karya ilmiah menjadi hal yang lumrah. Namun, keadaan ini menjadi bumerang bagi perkembangan kemampuan berfikir kritis. Mahasiswa sering kali menerima informasi secara cepat tanpa melakukan verifikasi dan analisis yang mendalam. Akibatnya, mahasiswa kesulitan dalam menjelaskan secara detail tentang fenomena atau kasus yang menjadi subyek kajiannnya.

Dalam kondisi seperti ini, dosen harus mengambil peran sebagai fasilitator. Dosen mengarahkan mahasiswa untuk membaca secara kritis serta membandingkan informasi tersebut dari berbagai sumber. Selanjutnya, mahasiswa harus diarahkan dalam mengungkapkan ilmu pengetahuan secara sistematis dan membangun argumentasi berdasarkan bukti ilmiah. Dengan metode tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan daya nalarnya, kreativitas, dan tanggung jawab akademiknya.

Perkembangan teknologi digital juga memiliki sisi gelap dalam keberhasilan studi mahasiswa. Beragam media sosial yang mudah diakses dapat menjadi distraksi dalam pencapaian target penyeslesaian studi. Media sosial, video pendek, games, dan berbagai hiburan digital sering kali membuat mahasiswa lebih tertarik pada aktivitas yang menyenangkan dan instan. Kebiasaan membaca, menulis dan berdiskusi dianggap sebagai kegiatan yang tidak menyenangkan. Bahkan mahasiswa menghabiskan waktu berjam-jam dengan kenyamanan menonton video pendek atau bermain games dan membuatnya lupa akan tanggung jawabnya.

Peran dosen dalam mengantisipasi distraksi teknologi digital pada mahasiswa adalah membimbing mahasiswa agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab dalam proses pembelajaran. Dosen harus mengarahkan mahasiswa untuk menjadikan teknologi sebagai sarana belajar, bukan sekadar hiburan. Oleh karena itu, dosen harus merancang pembelajaran yang aktif, menantang, dan berbasis masalah sehingga mahasiswa terdorong untuk berpikir, berdiskusi, mencari referensi, serta menghasilkan karya akademik. Selain itu, dosen harus senantiasa memotivasi mahasiswa agar mengatur waktunya secara cermat sehingga target penyelesaian tugas dapat terpenuhi.

 

Derasnya kemajuan teknologi digital menjadi tantangan bagi dosen untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran. Pola komunikasi yang ringan dan mudah dipahami oleh mahasiswa menjadi langkah strategis. Oleh karena itu, dosen harus terus menggali kebutuhan pembelajaran agar mampu memahami berbagai permasalahan mahasiswa.