SOPPENG, 2 September 2026 — Persoalan limbah peternakan di Desa Gattareng, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, mulai diubah menjadi peluang energi dan pertanian berkelanjutan. Tim dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) menerapkan teknologi digester biogas untuk mengolah feses dan urine ternak menjadi sumber energi bagi kebutuhan memasak rumah tangga sekaligus menghasilkan bioslurry yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kelompok Tani Jampue, Desa Gattareng, melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dikembangkan dengan pendekatan pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna. Tim pelaksana terdiri atas Moh. Ahsan S. Mandra, Abdul Gafur, dan Eka Apriyanti dari Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar.
Dari Limbah Menjadi Energi
Selama ini, limbah feses dan urine ternak di lingkungan mitra belum dimanfaatkan secara optimal dan sebagian masih menumpuk di sekitar kandang. Di sisi lain, rumah tangga peternak masih bergantung pada LPG 3 kilogram yang relatif mahal dan ketersediaannya tidak selalu mudah diperoleh.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen UNM menghadirkan teknologi digester biogas tipe fixed dome berkapasitas 4 meter kubik. Teknologi ini dirancang untuk mengolah limbah ternak melalui proses fermentasi anaerob sehingga menghasilkan biogas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar rumah tangga. “Program ini diarahkan untuk mengubah limbah ternak yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan menjadi sumber energi terbarukan sekaligus pupuk organik, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya lokal secara lebih produktif dan berkelanjutan,” ujar Moh. Ahsan S. Mandra, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat.
Penerapan teknologi dilakukan secara partisipatif. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi terlibat sejak proses persiapan, pembangunan, pengoperasian, hingga pemeliharaan digester. Pendekatan ini diharapkan memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengelola teknologi secara mandiri setelah kegiatan berakhir.

Gambar. Tahap implementasi penerapan teknologi
Ke depan, tim merekomendasikan pengukuran yang lebih presisi terhadap volume produksi biogas harian, besarnya penghematan LPG dalam rupiah per bulan, serta kandungan hara bioslurry. Pengembangan lebih lanjut juga diarahkan pada pengemasan dan pemasaran bioslurry sebagai produk pupuk organik serta replikasi teknologi kepada kelompok tani lainnya di Desa Gattareng.
Kegiatan pengabdian ini mendapat dukungan pendanaan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Makassar melalui skema kompetitif Tahun Anggaran 2026, dengan dukungan Pemerintah Desa Gattareng dan partisipasi aktif Kelompok Tani Jampue.
Tentang Kegiatan
Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan bagian dari upaya Universitas Negeri Makassar dalam mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui integrasi biogas dan eco-farming, kegiatan di Desa Gattareng diarahkan untuk mendukung pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan, kemandirian energi rumah tangga, serta penguatan kapasitas masyarakat.