OPINI

ChatGPT Bisa Merangkai Kata, tapi Hanya Guru “Deep Learning” yang Punya Jiwa

Oleh : Dr. Rahayu.S.PD,.,M.Pd
(Dosen Universits Negeri Makassar)

Senin, 08 Juni 2026

Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) seperti ChatGPT dan Gemini di ruang-ruang kelas bahasa saat ini disikapi dengan kecemasan yang berlebihan oleh sebagian pendidik. Guru-guru risau ketika melihat siswa mampu memproduksi esai bahasa Inggris yang tata bahasanya sempurna hanya dalam hitungan detik. Ketakutan akan hilangnya orisinalitas dan maraknya plagiarisme digital melahirkan kepanikan massal di kalangan praktisi pendidikan bahasa (ELT). Namun, benarkah kecanggihan teknologi ini otomatis mereduksi peran guru, ataukah kepanikan ini sebenarnya adalah cerminan dari kegagalan metode mengajar kita yang selama ini terlalu mekanis?

Jika kita telusuri secara kritis, ketakutan tersebut bersumber dari cara pandang konvensional yang menyamakan kemahiran bahasa sebatas pada kerapian struktur (grammar) dan kekayaan kosakata. Pada titik ini, teknologi AI memang tiada tanding. Melalui algoritma komputasi yang rumit, AI mampu menyusun teks akademis yang presisi. Namun, di balik kecanggihan generatif tersebut, AI sebenarnya tidak pernah memahami apa yang ia tulis. AI bekerja dalam ruang hampa emosi; ia menguasai permukaan (surface learning) tetapi absen dalam esensi makna. Ia memproduksi kata tanpa pernah memiliki kesadaran eksistensial tentang mengapa kata tersebut diucapkan.

Di sinilah letak relevansi krusial dari pendekatan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam) yang kini digalakkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Gerakan pembelajaran mendalam ini bertumpu pada tiga pilar utama: mindful learning (berkesadaran penuh), meaningful learning (kebermaknaan), dan joyful learning (proses yang menggembirakan). Ketika ruang kelas dihadapkan pada gempuran teknologi teks instan, pilar-pilar inilah yang menjadi benteng pertahanan pedagogis manusia. AI boleh saja memotong kompas proses penulisan esai, tetapi AI tidak akan pernah bisa mereplikasi perjalanan kognitif dan emosional siswa dalam menemukan ide, merasakan getaran estetika bahasa, serta mengontekstualisasikannya dengan empati sosial-budaya setempat.

Secara akademis, kita perlu membedah fenomena ini melalui kacamata Teori Konstruktivisme Sosial dari Lev Vygotsky (1978). Vygotsky menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar sekumpulan simbol mati yang dirangkai secara mekanis, melainkan sebuah alat psikologis yang lahir dari interaksi sosial yang dinamis dan bermakna. Proses negosiasi makna di dalam ruang kelas—ketika mahasiswa berdebat tentang diksi, merefleksikan nilai-nilai budaya lokal Makassar seperti Siri’ na Pacce, atau saling mengoreksi pemahaman dalam bahasa Inggris—adalah sebuah bentuk mindful learning yang tidak bisa disimulasikan oleh mesin chat pintar. Pendidik yang menerapkan pembelajaran mendalam bertindak sebagai fasilitator yang menjembatani Zone of Proximal Development (ZPD) siswa, memantik daya kritis mereka agar mampu melampaui apa yang disajikan secara instan oleh layar digital.

Kebutuhan akan guru pembelajar mandiri ini kian mendesak jika kita merujuk pada Teori Komunikasi Otentik (Authentic Communication) yang digagas oleh Jürgen Habermas. Habermas mengingatkan bahwa komunikasi yang sejati menuntut adanya keaslian niat (truthfulness), ketepatan konteks (rightness), dan pemahaman timbal balik yang tulus. Teks yang dihasilkan oleh ChatGPT bukanlah bentuk komunikasi otentik, melainkan hasil probabilitas statistik dari data-data masa lalu. Tanpa kehadiran guru yang menerapkan metode Deep Learning, kelas bahasa Inggris terancam berubah menjadi sekadar pabrik teks imitasi. Sebaliknya, guru yang berkesadaran penuh akan memanfaatkan AI bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai batu loncatan. Siswa diajak untuk mengkritisi produk esai AI, membedah bias budayanya, dan merekonstruksi teks tersebut agar menyuarakan kegelisahan kemanusiaan yang nyata.

Fenomena ini membawa kita pada pertanyaan reflektif yang mendasar: Apakah kita akan membiarkan kecerdasan buatan mendikte cara berpikir generasi masa depan melalui produk instannya, ataukah kita akan mengambil momentum digitalisasi ini untuk mentransformasi guru-guru kita menjadi fasilitator Deep Learning yang mampu mengasah kedalaman nalar dan rasa para siswa?

Sebagai pengamat dan praktisi pendidikan di FBS UNM, saya memandang bahwa di era disrupsi kecerdasan buatan ini, kelas bahasa justru membutuhkan lebih banyak sentuhan kemanusiaan, bukan sekadar digitalisasi sarana. Keberhasilan pengajaran bahasa Inggris ke depan tidak akan dinilai dari seberapa canggih teknologi yang diadopsi sekolah, melainkan dari seberapa bermakna guru memuliakan potensi berpikir siswanya. AI memang pintar dalam merangkai kata, namun ia tetap membutuhkan kehadiran seorang guru yang menerapkan Deep Learning untuk mengubah untaian kata tersebut menjadi sebuah kesadaran nalar yang utuh dan bermartabat.