OPINI

IMPLIKASI NILAI NILAI PANCASILA DALAM PEMBELAJARAN EKONOMI SEBAGAI ROLE MODEL TRANSFER PENGETAHUAN DAN PEWARISAN NILAI NILAI PANCASILA

Oleh : Dr. Agussalim, M.Pd
(Dosen Universitas Negeri Makassar)

Selasa, 02 Juni 2025

Pancasila merupakan dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak hanya penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga sangat relevan diterapkan dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pembelajaran ekonomi. Pembelajaran ekonomi sering kali dipahami sebatas proses memahami kegiatan produksi, distribusi, konsumsi, pasar, uang, kebutuhan, kelangkaan, serta perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun, jika dikaji lebih mendalam, pembelajaran ekonomi juga dapat menjadi sarana strategis untuk mentransfer pengetahuan sekaligus mewariskan nilai-nilai Pancasila kepada peserta didik agar mereka mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Implikasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran ekonomi terlihat dari bagaimana guru menjadikan materi ekonomi tidak hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai pedoman perilaku. Guru memiliki peran sebagai role model atau teladan dalam menyampaikan pengetahuan dan menanamkan karakter. Dalam proses pembelajaran, guru tidak cukup hanya menjelaskan konsep ekonomi secara akademis, tetapi juga perlu mengaitkannya dengan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral, kepedulian sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Nilai sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, dapat diimplikasikan dalam pembelajaran ekonomi melalui penanaman sikap jujur, amanah, dan bertanggung jawab dalam kegiatan ekonomi. Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas ekonomi tidak boleh dilepaskan dari nilai moral dan spiritual. Misalnya, ketika peserta didik mempelajari kegiatan jual beli, guru dapat menekankan pentingnya kejujuran dalam menimbang barang, menetapkan harga, dan menyampaikan kualitas produk. Praktik kecurangan, penipuan, korupsi, serta mengambil keuntungan secara tidak wajar bertentangan dengan nilai ketuhanan. Melalui pembelajaran ekonomi, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa mencari keuntungan adalah hal yang wajar, tetapi harus dilakukan dengan cara yang benar dan tidak merugikan orang lain.

Nilai sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dapat ditanamkan melalui pembelajaran tentang perilaku ekonomi yang menghargai hak dan martabat manusia. Dalam kegiatan ekonomi, manusia tidak boleh dipandang semata-mata sebagai alat produksi atau konsumen, tetapi sebagai makhluk yang memiliki hak, kebutuhan, dan nilai kemanusiaan. Guru dapat memberikan contoh tentang pentingnya memperlakukan pekerja secara adil, memberikan upah yang layak, tidak mengeksploitasi tenaga kerja, serta menghargai konsumen. Dalam kehidupan sehari-hari, peserta didik dapat menerapkan nilai ini dengan tidak melakukan tindakan ekonomi yang merugikan orang lain, seperti menimbun barang saat dibutuhkan masyarakat, menaikkan harga secara tidak wajar, atau memanfaatkan kesulitan orang lain demi keuntungan pribadi.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga memiliki implikasi penting dalam pembelajaran ekonomi. Ekonomi nasional tidak akan kuat apabila masyarakat hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Melalui pembelajaran ekonomi, peserta didik dapat diajak memahami pentingnya mencintai produk dalam negeri, mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah, serta menjaga stabilitas ekonomi bangsa. Guru dapat menjadi teladan dengan menumbuhkan sikap bangga terhadap potensi lokal dan mengajak peserta didik melihat bahwa kegiatan ekonomi dapat memperkuat persatuan. Misalnya, kegiatan koperasi sekolah dapat menjadi contoh nyata bahwa kerja sama ekonomi mampu mempererat hubungan antarsiswa, membangun rasa saling percaya, dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Nilai sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, dapat diwujudkan dalam pembelajaran ekonomi melalui pembiasaan musyawarah dan pengambilan keputusan bersama. Dalam kegiatan ekonomi, keputusan tidak selalu dapat diambil secara sepihak. Peserta didik dapat dilatih untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, menghargai pendapat orang lain, dan mencari solusi terbaik dalam menghadapi masalah ekonomi. Misalnya, ketika kelas membuat simulasi pasar, proyek kewirausahaan, atau pengelolaan koperasi sederhana, peserta didik dapat diajak menentukan harga, pembagian tugas, dan strategi penjualan melalui musyawarah. Dengan cara ini, pembelajaran ekonomi menjadi ruang latihan demokrasi yang nyata.

Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, merupakan nilai yang sangat dekat dengan kajian ekonomi. Ekonomi pada hakikatnya berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan manusia secara adil dan merata. Dalam pembelajaran ekonomi, guru dapat menjelaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat, tetapi harus memperhatikan kesejahteraan bersama. Peserta didik perlu memahami masalah kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendapatan, dan akses terhadap sumber daya sebagai persoalan yang harus diselesaikan dengan semangat keadilan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini dapat diterapkan melalui sikap berbagi, tidak boros, peduli kepada teman yang membutuhkan, serta menggunakan sumber daya secara bijak.

Sebagai role model, guru ekonomi memiliki tanggung jawab besar dalam proses transfer pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai Pancasila. Guru harus menunjukkan perilaku yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Ketika guru mengajarkan kejujuran, maka guru juga harus bersikap jujur dalam menilai tugas siswa. Ketika guru mengajarkan keadilan, maka guru harus memperlakukan seluruh siswa secara adil tanpa membeda-bedakan latar belakang ekonomi, suku, agama, maupun kemampuan akademik. Keteladanan guru akan lebih mudah diterima peserta didik dibandingkan nasihat yang hanya disampaikan secara teoritis.

Pembelajaran ekonomi berbasis nilai Pancasila juga dapat dilakukan melalui metode pembelajaran kontekstual. Guru dapat mengaitkan materi dengan kehidupan nyata peserta didik, seperti kebiasaan menabung, mengatur uang saku, membeli barang sesuai kebutuhan, membantu usaha keluarga, atau berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Dengan pendekatan ini, peserta didik memahami bahwa ekonomi bukan sekadar angka dan teori, tetapi berkaitan langsung dengan pilihan hidup sehari-hari. Mereka belajar bahwa setiap keputusan ekonomi memiliki dampak moral, sosial, dan kebangsaan.

Selain itu, pembelajaran ekonomi dapat menjadi sarana pembentukan karakter kewirausahaan yang berlandaskan Pancasila. Peserta didik dapat didorong menjadi wirausaha muda yang kreatif, mandiri, jujur, peduli lingkungan, dan bertanggung jawab sosial. Kewirausahaan tidak hanya diarahkan untuk mencari keuntungan, tetapi juga menciptakan manfaat bagi masyarakat. Misalnya, peserta didik dapat membuat produk ramah lingkungan, membantu memasarkan produk lokal, atau menjalankan kegiatan usaha sederhana dengan prinsip kejujuran dan kerja sama.

Dalam kehidupan sehari-hari, implikasi nilai-nilai Pancasila dalam pembelajaran ekonomi tampak pada perilaku sederhana, seperti membeli barang dengan jujur, tidak menawar secara berlebihan hingga merugikan penjual kecil, menghemat penggunaan listrik dan air, menyisihkan uang untuk membantu sesama, serta menghargai pekerjaan orang lain. Perilaku tersebut menunjukkan bahwa nilai Pancasila tidak hanya dihafalkan, tetapi benar-benar diamalkan.

Dengan demikian, pembelajaran ekonomi memiliki peran penting sebagai media transfer pengetahuan dan pewarisan nilai-nilai Pancasila. Melalui pembelajaran yang bermakna, peserta didik dapat memahami konsep ekonomi sekaligus membentuk karakter sebagai manusia Indonesia yang beriman, beradab, bersatu, demokratis, dan adil. Guru sebagai role model menjadi kunci utama dalam menanamkan nilai tersebut. Apabila pembelajaran ekonomi dilaksanakan dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, maka pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara ekonomi, tetapi juga berkarakter, peduli, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara