OPINI

TANTANGAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENUMBUHKAN KESADARAN LINGKUNGAN BAGI MASYARAKAR

Oleh ; Dr. Muhammad Zulfi Al’Ghani. M.Pd
(Dosen Universitas Negeri Makassar)

Kamis, 28 Mei 2026

Kerusakan lingkungan yang semakin meningkat akibat pencemaran, eksploitasi sumber daya alam, perubahan iklim, dan berkurangnya ruang hijau menjadi tantangan besar bagi seluruh elemen lapisan masyarakat. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui ketiga fungsi tersebut, perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan. Namun, dalam praktiknya, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Salah satu tantangan utama adalah masih rendahnya tingkat literasi lingkungan di sebagian besar masyarakat. Literasi lingkungan hanya didapatkan pada elemen masyarakat akademik. Banyak masyarakat yang belum memahami keterkaitan antara aktivitas sehari-hari dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, penggunaan plastik sekali pakai, serta pemanfaatan sumber daya yang berlebihan masih sering ditemukan. Kondisi ini membuat upaya perguruan tinggi dalam mengedukasi masyarakat memerlukan pendekatan yang lebih intensif, terukur dan berkelanjutan.

Tantangan berikutnya adalah kesenjangan antara hasil penelitian akademik dengan kebutuhan masyarakat. Banyak penelitian terkait lingkungan yang menghasilkan rekomendasi dan inovasi penting, tetapi belum sepenuhnya diterapkan dan ‘dibumikan’ dalam kehidupan masyarakat. Hasil-hasil penelitian sering kali hanya tersimpan dalam jurnal bereputasi nasionl maupun internasional atau laporan akademik. Akibatnya, potensi kontribusi perguruan tinggi dalam menyelesaikan permasalahan lingkungan menjadi kurang optimal.

Selain itu, keterbatasan sumber daya juga menjadi hambatan bagi perguruan tinggi dalam melaksanakan program peningkatan kesadaran lingkungan. Kegiatan penyuluhan, pendampingan masyarakat, penelitian lapangan, maupun program pengabdian membutuhkan dukungan dana, tenaga ahli, dan fasilitas yang memadai. Tidak semua perguruan tinggi memiliki kemampuan yang sama dalam menyediakan sumber daya tersebut, terutama perguruan tinggi yang berada di daerah dengan keterbatasan anggaran.

Perkembangan teknologi informasi dan media sosial juga menghadirkan tantangan tersendiri. Di satu sisi, teknologi dapat digunakan sebagai sarana edukasi lingkungan yang efektif. Namun, di sisi lain, masyarakat sering kali lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat atau bahkan hoaks terkait isu lingkungan. Perguruan tinggi dituntut untuk mampu menjadi sumber informasi yang kredibel sekaligus membangun komunikasi yang efektif agar pesan-pesan lingkungan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah masih lemahnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kesadaran lingkungan tidak dapat dibangun hanya oleh satu pihak. Dibutuhkan sinergi berbagai pemangku kepentingan agar program-program lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan. Perguruan tinggi sering kali menghadapi kendala dalam membangun kemitraan yang kuat sehingga dampak kegiatan yang dilakukan belum menjangkau masyarakat secara luas.

Di lingkungan internal perguruan tinggi sendiri, implementasi budaya ramah lingkungan juga masih menjadi pekerjaan rumah. Tidak semua kampus telah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan secara optimal, seperti pengelolaan sampah terpadu, efisiensi energi, konservasi air, atau pengurangan penggunaan plastik. Padahal, kampus yang berhasil menjadi contoh praktik lingkungan yang baik akan lebih mudah memengaruhi masyarakat melalui keteladanan nyata.

Perubahan perilaku masyarakat yang membutuhkan waktu panjang juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Kesadaran lingkungan bukan hanya persoalan pengetahuan, tetapi juga berkaitan dengan sikap dan kebiasaan. Meskipun masyarakat telah menerima informasi tentang pentingnya menjaga lingkungan, tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku yang nyata. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan pendekatan yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga partisipatif dan berbasis pengalaman langsung.

Di era pembangunan berkelanjutan saat ini, perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Mahasiswa perlu dilibatkan secara aktif dalam berbagai kegiatan konservasi, penelitian terapan, dan program pengabdian masyarakat yang berorientasi pada solusi lingkungan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi agen perubahan yang mampu menyebarluaskan kesadaran lingkungan kepada masyarakat setelah lulus.

 

Tantangan perguruan tinggi dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan bagi masyarakat memang tidak ringan. Namun, tantangan tersebut juga membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk memperkuat perannya sebagai motor penggerak perubahan sosial. Melalui pendidikan yang berkualitas, penelitian yang relevan, serta pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, perguruan tinggi dapat berkontribusi secara nyata dalam membangun masyarakat yang lebih sadar lingkungan. Kesadaran tersebut menjadi fondasi penting bagi terciptanya pembangunan yang berkelanjutan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang.