OPINI

Pendidikan Lingkungan Sebagai Jalan Perubahan Perilaku Pengelolaan Sampah di Kota Makassar

Oleh : Prof. Dr. Ir. Nurlita Pertiwi, M.T (Dosen Universitas Negeri Makassar)

Senin, 25 Mei 2026

Permasalahan lingkungan di Indonesia muncul dengan berbagai bentuk dan penyebabnya. Secara umum, kepadatan penduduk dianggap sebagai pemicu permasalahan sampah baik dalam hal penanganannya maupun dalam upaya reduksi volume sampah. Secara spesifik, saat ini penduduk Kota Makassar mengalami persoalan pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Makassar melaporkan bahwa sekitar kegiatan masyarakat menghasilkan sekitar 800 ton per hari, sementara kapasitas pengangkutan hanya berkisar  67%, dengan kata lain terdapat sekitar 240 ton sampah per hari yang tidak dapat diangkut ke tempat pembuangan akhir sampah.

Permasalahan tersebut ditandai dengan banyaknya timbulan sampah di tepi jalan atau pada lahan kosong. Timbulan sampah tersebut berdampak pada menurunnya estetika perkotaan dan masalah sosial kemasyarakatan. Secara estetika, timbulan sampah di tepi jalan dan lahan kosong menciptakan kesan kumuh dan mengindikasikan minimnya penataan. Sampah yang berserakan di ruang publik merusak keindahan visual lingkungan, mengganggu kenyamanan pengguna jalan, serta menurunkan citra kawasan permukiman maupun kawasan perkotaan. Selain itu, lahan kosong yang berpotensi sebagai ruang hijau, taman lingkungan, atau area produktif justru sering berubah menjadi tempat pembuangan sampah tidak resmi. Kondisi ini menjadi tempat berkembangnya lalat dan tikus, serta memperburuk kualitas lingkungan sekitar. Akhirnya, persoalan pengelolaan sampah berdampak sosial seperti adanya persepsi negatif terhadap suatu kota. Kota yang dipenuhi sampah akan dianggap kurang bersih, kurang tertib, dan kurang nyaman untuk ditinggali maupun dikunjungi. Padahal, estetika kota merupakan bagian penting dari kualitas hidup masyarakat. Lingkungan yang bersih dan tertata akan mendorong rasa nyaman, rasa memiliki, serta kebanggaan warga terhadap kotanya.

Pengelolaan sampah menjadi suatu hal yang penting untuk diatasi secara bersama-sama. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat adalah strategi efektif dalam upaya mereduksi serta mengolah sampah hingga menghasilkan limbah yang minim. Stratregi tersebut hanya dapat dicapai dengan bertumbuhnya kesadaran masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah. Pendidikan lingkungan secara spesifik bertujuan membangun kesadaran bahwa sampah bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga masalah kesehatan, estetika kota, banjir, pencemaran air, perubahan iklim, dan kualitas hidup. Masyarakat perlu memahami bahwa tindakan kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi plastik sekali pakai, memilah sampah, dan membuat kompos memiliki dampak besar bagi lingkungan.

Pendidikan lingkungan dapat dilakukan dengan tiga pola yaitu pendidikan lingkungan berbasis keluarga, pendidikan lingkungan berbasis sekolah dan pendidikan lingkungan berbasis masyarakat. Pendidikan lingkungan berbasis keluarga ditandai dengan adanya pembentukan perilaku atau kebiasaan peduli lingkungan. Pendidikan lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa botol minum sendiri, serta memilah sampah organik dan anorganik di rumah. Jika kebiasaan ini dibangun dari keluarga, maka kesadaran lingkungan tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari.

Sedangkan pendidikan lingkungan berbasis sekolah diterapkan melalui pola pembentukan karakter atau peduli lingkungan. Pola edukasi lingkungan berbasis sekolah dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kepedulian lingkungan ke dalam kegiatan belajar, budaya sekolah, dan praktik nyata sehari-hari. Selain itu, sekolah juga dapat menerapkan pola integrasi materi lingkungan dalam pembelajaran. Guru dapat memasukkan isu lingkungan ke dalam berbagai mata pelajaran, seperti IPA, IPS, Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Agama, dan Seni Budaya. Dengan cara ini, lingkungan tidak dipahami sebagai isu yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Selain itu, beberapa sekolah telah menerapkan pembiasaan perilaku ramah lingkungan. Peserta didik dibiasakan membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, membawa botol minum sendiri, mengurangi plastik sekali pakai, menjaga kebersihan kelas, mematikan lampu dan kipas jika tidak digunakan, serta menggunakan air secara hemat. Pembiasaan ini penting karena pendidikan lingkungan tidak cukup hanya diketahui, tetapi harus dilakukan secara berulang hingga menjadi budaya.

Penerapan program program sekolah bersih biasanya didukung dengan berbagai program jadwal piket kelas, jumat bersih, lomba kebersihan kelas, gerakan menanam pohon, perawatan taman, dan penghijauan halaman sekolah. Kegiatan tersebut melatih siswa untuk merasa memiliki lingkungan sekolahnya. Ketika siswa ikut menanam dan merawat tanaman, mereka akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga ruang hijau.

Pendidikan lingkungan berbasis masyarakat adalah proses pembelajaran lingkungan yang dilakukan secara langsung di tengah masyarakat dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama. Pendidikan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran, kebiasaan, dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan sekitar. Secara spesifik pola pendidikan ini dapat dilakukan melalui kegiatan di tingkat kelurahan, komunitas pemuda, kelompok ibu rumah tangga, sekolah, rumah ibadah, pasar, dan organisasi lokal. Materi yang diberikan sebaiknya sederhana dan praktis, seperti cara memilah sampah organik dan anorganik, membuat kompos, mengelola bank sampah, mengurangi plastik, menjaga saluran air, menanam pohon, membuat biopori, dan menjaga kebersihan lingkungan.

Pendidikan lingkungan berbasis masyarakat tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga melalui praktik langsung. Misalnya, warga diajak membuat komposter rumah tangga, membersihkan drainase, memelihara lubang biopori dan mengelola bank sampah. Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya mendengar pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga merasakan manfaatnya secara langsung.

Dengan demikian, pendidikan lingkungan yang berkelanjutan akan membentuk masyarakat yang lebih peka terhadap permasalahan sampah. Masyarakat secara sadar untuk ikut serta dalam  membangun lingkungan yang lebih sehat, tertata, indah, dan berkelanjutan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.